Bappenas Akan Realisasikan RPJMN “Hijau” Tahun 2020 - 2024

BAPPENAS AKAN REALISASIKAN RPJMN “HIJAU” TAHUN 2020 - 2024

Jakarta – “Sebenarnya sudah lama Bappenas ingin menghijaukan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), namun baru akan bisa terlaksana di 2020-2024.” Demikian isi pidato Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Ir. Medrilzam, M.Prof.Econ, Ph.D., pada pembukaan Lokakarya Nasional Percepatan Restorasi Di Indonesia : Pengenalan Restore+ dan Pembelajaran Restorasi Bentang Lahan, Selasa (6/6) di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ia menyatakan pertumbuhan hijau dan pembangunan rendah karbon akan diakomodasi melalui proses Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada proses penyusunan RPJMN 2020 – 2024. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan KLHS, bahwa harus ada KLHS untuk RPJMN 2020-2024. Sehingga KLHS dan RPJMN akan dibuat dan dilaksanakan menyatu.

Sebelumnya, dalam pidato pembukaan, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Dr. Ir. Gellwyn Daniel Hamzah Jusuf, M.Sc mengatakan Bappenas akan menyiapkan RPJMN 2020-2024 "hijau" dengan menempatkan daya dukung daya tampung lingkungan hidup dan sumber daya alam (SDA) sebagai perhatian utama pembangunan.

Sementara itu, RESTORE+ Project Coordinator, Ping Yogawarna, MS.c memperkenalkan IIASA atau International Institute for Applied Systems Analysis, yaitu lembaga penelitian di Austria yang bersifat internasional dengan 24 negara anggota. Diharapkan riset IIASA mendukung negara-negara anggotanya termasuk Indonesia. Terkait dengan Restore+ di Indonesia, ia menjelaskan mengenai kegiatan Restore+ mencakup pengumpulan data melalui urun daya bersama masyarakat yang dikombinasikan dengan pemodelan tata guna lahan dan rantai pasok komoditas berbasis lahan. Tujuannya mengindentifikasi area dengan potensi restorasi dan pemanfaatan berkelanjutan serta implikasinya terhadap aspek produktivitas ekonomi, keragaman hayati, emisi gas rumah kaca dan dampak sosial lainnya

Selanjutnya, Country Director ICRAF Indonesia, Dr. Sonya Dewi bercerita tentang kegiatan restorasi hutan dan bentang lahan secara partisipatif di DAS Musi dan Batanghari. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara ICRAF dan WRI Indonesia. Hasil analisis yang dilakukan di Sumatera Selatan dan Jambi dengan menggunakan Metodologi Evaluasi Kesempatan Restorasi (MEKAR) yang dikembangkan oleh WRI dan IUCN menunjukkan bahwa restorasi hutan dan bentang lahan yang direncanakan dengan baik akan mampu mengembalikan fungsi ekologi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam kegiatan ini.

Acara dilanjutkan dengan temu wicara dengan narasumber Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, RESTORE+ Project Coordinator dan Country Director ICRAF Indonesia dengan moderator Arief Wijaya dari WRI Indonesia. (SekRAN-GRK)